Belajar Dari Kasus NM, Ini Hukum Hak Asuh dan Waris Setelah Perceraian Dalam Islam

Akhir-akhir ini, tampaknya media tengah ramai dengan kasus artis berinisial NM yang ribut-ribut dengan seorang pengacara. Tentu ada alasan di baliknya. Mengapa seorang NM sampai nekat melabrak seorang pengacara di suatu acara TV adalah karena ia merasa dirinya dan anak-anaknya terusik, karena pengacara tersebut merupakan kuasa hukum mantan suaminya, yang berusaha mengambil alih hak asuh anak-anaknya. 

Miris pastinya. Anak-anak yang merupakan buah cinta jadi korban “perebutan” kedua orang tuanya yang bercerai. Memang, kita semua pasti ingin pernikahan kita langgeng sampai maut memisahkan. Namun memang tak bisa dipungkiri kalau keadaan setiap suami istri berbeda-beda. Kalau keutuhan sebuah rumah tangga dianggap sudah tidak bisa dipertahankan lagi, maka jalan terbaik memang bercerai. 

Anak yang tumbuh kembang dengan baik adalah mereka yang dirawat dengan penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya

Masalahnya, ada hal-hal lain yang biasanya terjadi setelah perceraian, seperti pengurusan hak asuh anak serta hak waris. Ini penting untuk diketahui, agar tidak ada lagi kasus seperti NM yang tentunya menuai kontroversi. 

Hak Asuh Anak

Berdasarkan Komplikasi Hukum Islam pasal 105 dan 106, berikut aturan yang berlaku soal hak asuh:

  1. Anak yang belum berusia 12 tahun adalah hak ibunya, di mana ia wajib dirawat oleh ibunya, kecuali dalam keadaan tertentu di mana si ibu tidak sehat secara fisik, mental, atau agama, atau meninggal dunia. 
  2. Jika ibunya tidak bisa merawat atau meninggal dunia, maka hak asuh jatuh pada wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu, ayah, wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah, saudara perempuan ayah, atau kerabat wanita ayah yang sedarah. 
  3. Anak yang sudah berusia di atas 12 tahun bisa memilih untuk ikut ayah atau ibunya, 
  4. Biaya pemeliharaan wajib ditanggung oleh ayah. 
  5. Apabila pemegang hak asuh kemudian terbukti tidak mampu menjamin keselamatan jasmani dan rohani si anak, bahkan meski semua biaya telah dicukupi, maka atas pemintaan kerabat si anak, Pengadilan Agama dapat mengalihkan hak asuh ke kerabat lain yang juga punya hak. 
  6. Biaya hak asuh, meski ditanggung oleh ayah, disesuaikan juga dengan kemampuannya, sampai si anak dewasa dan bisa mengurus diri sendir (21 tahun). 
  7. Dengan melihat kemampuan finansial si ayah, Pengadilan juga dapat menetapkan jumlah biaya pemeliharaan yang harus ia tanggung. 

Dari semua poin di atas, dapat disimpulkan bahwa jika terjadi perceraian, maka hak asuh anak jatuh pertama kali pada ibu. Sementara ayah berkewajiban untuk membiayai kehidupan dan pendidikan si anak sampai ia dewasa. Besar nominalnya ditetapkan oleh pengadilan. 

Namun perlu diingat juga bahwa ayah maupun ibu pun bisa kehilangan hak asuh jika melakukan hal-hal yang bisa membahayakan keselamatan jasmani dan rohani anak, seperti:

  • kebiasaan melakukan hal-hal yang melanggar norma agama, misalnya mabuk-mabukan, berjudi, zina, dan sejenisnya.
  • murtad atau keluar dari Islam.
  • pelaku kriminal dan mendapat hukuman penjara
  • memiliki gangguan mental yang bisa mengancam keselamatan si anak
  • tidak mampu menjamin kesejahteraan anak

Bila terjadi salah satu atau beberapa dari poin di atas, maka pemberian hak asuh akan ditentukan oleh pengadilan. Bukan tidak mungkin jika pengadilan menetapkan si anak untuk diasuh oleh kerabat (bukan oleh ayah atau ibu) yang bisa lebih menjamin kesejahteraannya. 

Hukum Waris

Dalam hukum Islam, disebutkan bahwa hak waris itu disebabkan oleh dua hal, hubungan nasab dan hubungan pernikahan. 

Oleh karena itu, jika sepasang suami istri bercerai, dan si istri sudah habis masa iddahnya, maka tidak ada lagi hubungan pernikahan di antara keduanya, dan karenanya mereka tidak bisa jadi ahli waris satu sama lain jika salah satunya meninggal. 

Namun, berlaku hal yang sebaliknya pada anak. Jika nanti ayah atau ibu dari si anak meninggal, maka si anak menjadi ahli waris dan karenanya bisa mendapatkan hak waris. 

Dari uraian di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa mantan istri atau suami yang sudah tidak terikat dalam pernikahan tidak berhak mendapatkan hak waris satu sama lain, tapi si anak yang menjadi ahli waris wajib mendapatkannya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.