Pikirkan Lagi: Ini 7 Efek Jangka Panjang Perceraian Terhadap Anak

Tidak ada pasangan suami istri mana pun yang ketika menikah mengharapkan terjadinya perceraian. Semua ingin biduk rumah tangga yang langgeng sampai maut memisahkah. Namun, kita juga tidak bisa menampik bahwa ada masalah-masalah rumah tangga berat yang bisa menyakiti istri dan suami jika keduanya memaksa untuk mempertahankan keutuhan pernikahan. Karena itulah perceraian jadi jalan tengah. 

Meski kemudian masalah rumah tangga tersebut bisa selesai dengan bercerai, bukannya perceraian tidak menimbulkan masalah baru, apalagi jika pernikahan tersebut sudah menghasilkan anak. Anak, adalah pihak yang paling dirugikan jika terjadi perceraian. Soalnya, bercerainya kedua orang tua membawa dampak emosional yang buruk ke depannya bagi si anak, bahkan meski ia membela ibu atau ayahnya. 

Berikut 7 dampak bagi anak korban perceraian:

Perasaan Bersalah

Anak-anak, apalagi yang umurnya masih di bawah 12 tahun, umumnya cara berpikirnya belum matang. Maka saat kedua orang tuanya bercerai, mereka akan merasa bahwa itu disebabkan olehnya. Anak-anak sangat rapuh jika menyangkut perpisahan. Mereka merasa dunianya jadi berantakan. 

Jadi Cemas dan Depresi

Ini umum terjadi jika orang tua yang mengasuh si anak tidak memberikan kesejahteraan padanya, apalagi selama proses perceraian. Tanpa orang tua sadari, saat mereka bertengkar, berdebat, dan melampiaskan rasa marah atau sakit terhadap pasangan di depan anak, itu akan sangat mengganggu kesehatan mental mereka. Tanda umum kecemasan dan depresi di anak adalah, sulit tidur, sulit belajar, sulit konsentrasi, gangguan makan, menyakiti diri, dan menarik diri dari kehidupan sosial. 

Paranoid

Anak berisiko juga untuk kehilangan rasa percaya diri pasca-perceraian. Ia merasa tidak beruntung dibanding teman-temannya yang orang tuanya masih bersama. Akibatnya, ia kehilangan ketenangan batin dan minat untuk meraih cita-cita. Kehilangan semangat hidup itu bisa membuat pribadi seorang anak jadi paranoid. Ia akan menarik diri dari kehidupan sosial dan memilih untuk bersembunyi dan menjadi orang yang kasar. 

Berkelakuan Buruk

Seperti yang tadi disebutkan, anak korban perceraian kebanyakan kehilangan tujuan hidup dan dukungan dalam menjalani kehidupan. Akibatnya, mereka jadi tak terkendali dan cenderung agresif. Keadaan ini juga diperparah jika si anak merasa orang tuanya mengabaikannya dan sibuk sendiri, entah dengan pekerjaan atau keluarga barunya. Maka untuk menarik perhatian, ia akan melakukan berbagai kenakalan. 

Kualitas Kehidupan Rendah

Rata-rata anak korban perceraian akan merasa bahwa kualitas hidupnya juga berkurang. Hal ini tercermin dari, misalnya, berkurangnya rasa aman dan nyaman yang dirasakan si anak, berkurangya kesejahteraan, berkurangnya fasilitas hidup, dan lain sebagainya. Ini disebabkan karena kedua orang tua yang sudah enggan berkomunikasi terhadap satu sama lain demi memenuhi kebutuhan hidup si anak. 

Prestasi Akademis Menurun

Seperti yang tadi disebutkan, umumnya anak korban perceraian akan mengalami masalah perilaku. Mereka jadi kehilangan minat untuk mengejar cita-cita. Dan itu berdampak pada prestasi akademisnya. Ditambah lagi sudah tidak ada yang mengontrol dan mengawasi kegiatan belajar mereka. 

Sulit Menjalani Hubungan

Ketika si anak sudah dewasa dan mulai berhubungan dengan lawan jenis, ia akan kesulitan untuk mempertahankan hubungan yang sehat. Bahkan meski pasangannya suportif sekalipun, si anak akan tetap dibayang-bayangi oleh kegagalan pernikahan orang tuanya. Ia jadi akan ketakutan ditinggalkan. Makanya, banyak anak korban perceraian yang ketika dewasa jadi enggan berkomitmen. Saat mereka memutuskan untuk menikah pun, mereka jad cenderung bercerai juga karena tidak tahu cara membina rumah tangga yang benar. 

Untuk menghindari dampak-dampak negatif tersebut, jika memang perceraian harus menjadi satu-satunya jalan, pastikan anak tetap mendapat limpahan kasih sayang. Usahakan perubahan yang sesedikit mungkin dalam rutinitas harian mereka. Dan kalau bisa, tunjukkan padanya bahwa orang tua berpisah secara baik-baik. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.